UNESCO memasukkan Batik Indonesia ke dalam Representative List karena telah memenuhi kriteria, antara lain kaya dengan simbol-simbol dan filosofi kehidupan rakyat Indonesia; memberi kontribusi bagi terpeliharanya warisan budaya takbenda pada saat ini dan di masa mendatang. Sebagai masyarakat Indonesia seharusnya bangga dan selalu mengusahakan pengembangan dan pelestarianya. Salah satu usaha untuk pengembangan dan pelestarian batik Indonesia adalah mengenal batik lebih dekat, namun tidak semua masyarakat Indonesia mengenal teknik batik, terutama generasi muda atau anak-anak.

Dalam rangka pengenalan batik pada anak-anak, Prodi Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain bekerjasama dengan SD Cemara 2 Surakarta, mengadakan workshop teknik batik cap dengan pewarnaan sintetis Remasol pada tanggal 12 Februari 2018. Bertempat di Kanopi Gedung II FSRD UNS, sejumlah 113 orang siswa-siswi SD Cemara 2 Klas 1A, 1B, 1C dan 1D Surakarta mengikuti workshop batik dengan pemateri adalah Kaprodi Kriya Tekstil Dra. Tiwi Bina Affanti M.Sn, dan dibantu oleh 12 orang mahasiswa Kriya Tekstil dan Alumni.

Sebelum workshop, siswa-siswi tersebut diajak membuat lingkaran besar di halaman depan kanopi, dan diawali dengan sambutan pembuka oleh kepala Sekolah SD Cemara 2, dilanjutkan dengan sambutan dari Kaprodi Kriya Tekstil. Siswa-siswi juga diajak untuk menyerukan yel-yel semangat dan senam penguin. Kemudian foto bersama per kelas.

Proses workshop diawali pada jam 08.30 dengan membuat barisan perkelas, sehingga terjadi 4 kelompok besar, hal ini dilakukan untuk memudahkan proses pelaksanaan workshop ngecap dan workshop mewarnai. Setiap anak diberi identitas sesuai dengan kelompoknya. Disediakan 3 set meja cap batik, dengan demikian proses pengecapan di atas kain mori ukuran 30×30 Cm berjalan dengan lancar dan  tertib. Setelah proses pengecapan, siswa-siswi diatur duduknya untuk memudahkan proses pewarnaanya. Setiap kelompok didampingi 3 orang mahasiswa Kriya Tekstil.

Suasana riuh gembira terlihat pada raut wajah mereka ketika mewarnai batiknya, karena workshop batik tersebut merupakan pengalamanya yang pertama. Eksplorasi kreatifitas dalam pewarnaan dilakukan oleh para siswa tersebut sehingga menghasilkan visual yang unik dari masing-masing karyanya.Untuk menyingkat waktu dan untuk menjaga keamananya, proses pelorodan dilakukan oleh tim work Kriya Tekstil.