Menurut Ki Hadjar Dewantara, wayang dimasukkan sebagai pendidikan estetis yang dapat menghaluskan perasaan keindahan terhadap segala benda lahir. Bahkan bagi dunia internasional (UNESCO), mengakui dan menetapkan wayang sebagai masterpiece of the oral and intagible herritage of humanity. Artinya, wayang tidak hanya dimaknai sebagai perwujudan fisik dari wayang (puppet), melainkan sampai pada sisi lakon dan ritus yang menyertainya. Wayang sebagai hasil olah budaya manusia Indonesia yang adiluhung telah ikut membentuk budaya nasional Indonesia saat ini sebagai bagian dari budaya dunia. Salah satunya adalah  Wayang Godhonk, wayang kontemporer yang dibuat dari Godhonk (daun) jati, tembakau, dan kopi merupakan buah dari gagasan Agus Purwantoro (Gus Pur), seniman asal Desa Salaman Magelang. Latar belakang penciptaan wayang ini bermula dari adanya empati terhadap resistensi petani tembakau pada tahun 2010. Gus Pur yang bertutur melalui Wayang Godhonk ini mencoba mentransformasi fungsi wayang yang awalnya sebagai karakter dalam pertunjukan saja kemudian diubah menjadi media edukasi untuk menyampaikan kisah-kisah tentang kebajikan dan pesan tentang kehidupan, termasuk kecintaan terhadap alam. Wayang Godhonk yang sarat akan makna ini patut dikenalkan pada anak usia dini (4-6 tahun) sebagai bentuk pengenalan terhadap seni dan budaya Jawa. Pengenalan ini dimulai dengan mengadakan pengabdian di PAUD Harapan Bunda Magelang. Anak-anak diajak melihat proses pembuatan Wayang Godhonk, praktek membuatnya serta mementaskannya secara sederhana sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh anak-anak usia dini di PAUD TK Harapan Bunda ini pada Senin, 9 Maret 2020 lalu. Semua kegiatan ini dilakukan oleh Tim Pengabdi yakni dosen-dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain: Agus Purwantoro, Soepono Sasongko, Jazuli Abdin Munib, dan Sigit Purnomo Adi.

Dalam paparannya diceritakan tentang asal usul Wayang Godhonk dimana penemuan ide tentang wayang ini dimulai dari aktifitas keseharian seniman (Gus Pur) saat menyapu halaman membersihkan daun-daun kering yang gugur di pekarangan. Kemudian daun-daun kering yang diterawang di bawah sinar matahari tampak serat-serat yang indah, terlebih lagi saat daun itu dimainkan bersama cucunya, digerak-gerakan seperti gerakan wayang. Daun-daun memperlihatkan kekuatan magis dimana manusia sangat sulit untuk menggambar serat-serta daun tersebut. Daun merupakan karya seni ciptaan Tuhan yang bernilai tinggi. Dari sinilah, kemudian dibuat daun-daun dengan merepresentasikan masing-masing karakter yang digunakan untuk bercerita melalui pementasan (pementasan Wayang Godhonk). Pada pemaparan ini juga dijelaskan bahwa wayang merupakan bentuk seni budaya leluhur bangsa Indonesia yang harus dijaga kelestariannya.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, wayang dimasukkan sebagai pendidikan estetis yang dapat menghaluskan perasaan keindahan terhadap segala benda lahir. Bahkan bagi dunia internasional (UNESCO), mengakui dan menetapkan wayang sebagai masterpiece of the oral and intagible herritage of humanity. Artinya, wayang tidak hanya dimaknai sebagai perwujudan fisik dari wayang (puppet), melainkan sampai pada sisi lakon dan ritus yang menyertainya. Wayang sebagai hasil olah budaya manusia Indonesia yang adiluhung telah ikut membentuk budaya nasional Indonesia saat ini sebagai bagian dari budaya dunia. Salah satunya adalah  Wayang Godhonk, wayang kontemporer yang dibuat dari Godhonk (daun) jati, tembakau, dan kopi merupakan buah dari gagasan Agus Purwantoro (Gus Pur), seniman asal Desa Salaman Magelang. Latar belakang penciptaan wayang ini bermula dari adanya empati terhadap resistensi petani tembakau pada tahun 2010. Gus Pur yang bertutur melalui Wayang Godhonk ini mencoba mentransformasi fungsi wayang yang awalnya sebagai karakter dalam pertunjukan saja kemudian diubah menjadi media edukasi untuk menyampaikan kisah-kisah tentang kebajikan dan pesan tentang kehidupan, termasuk kecintaan terhadap alam. Wayang Godhonk yang sarat akan makna ini patut dikenalkan pada anak usia dini (4-6 tahun) sebagai bentuk pengenalan terhadap seni dan budaya Jawa. Pengenalan ini dimulai dengan mengadakan pengabdian di PAUD Harapan Bunda Magelang. Anak-anak diajak melihat proses pembuatan Wayang Godhonk, praktek membuatnya serta mementaskannya secara sederhana sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh anak-anak usia dini di PAUD TK Harapan Bunda ini pada Senin, 9 Maret 2020 lalu. Semua kegiatan ini dilakukan oleh Tim Pengabdi yakni dosen-dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain: Agus Purwantoro, Soepono Sasongko, Jazuli Abdin Munib, dan Sigit Purnomo Adi.

Dalam paparannya diceritakan tentang asal usul Wayang Godhonk dimana penemuan ide tentang wayang ini dimulai dari aktifitas keseharian seniman (Gus Pur) saat menyapu halaman membersihkan daun-daun kering yang gugur di pekarangan. Kemudian daun-daun kering yang diterawang di bawah sinar matahari tampak serat-serat yang indah, terlebih lagi saat daun itu dimainkan bersama cucunya, digerak-gerakan seperti gerakan wayang. Daun-daun memperlihatkan kekuatan magis dimana manusia sangat sulit untuk menggambar serat-serta daun tersebut. Daun merupakan karya seni ciptaan Tuhan yang bernilai tinggi. Dari sinilah, kemudian dibuat daun-daun dengan merepresentasikan masing-masing karakter yang digunakan untuk bercerita melalui pementasan (pementasan Wayang Godhonk). Pada pemaparan ini juga dijelaskan bahwa wayang merupakan bentuk seni budaya leluhur bangsa Indonesia yang harus dijaga kelestariannya.

Gambar 1. Penjelasan/pemaparan Tentang Wayang Godhonk di  PAUD Harapan Bunda Magelang pada Senin, 9 Maret 2020

Kegiatan dilanjutkan dengan Pelatihan pembuatan Wayang Godhonk  dilakukan oleh semua murid PAUD TK Harapan Bunda dengan dimentori oleh tim pengabdi, dibantu semua guru. Di sini keterlibatan guru sangat dibutuhkan untuk mendampingi murid-murid untuk praktek membuat wayang dari daun dan juga dari kertas.

Gambar 2. Pelatihan Pembuatan Wayang dari kertas sebagai media terdekat untuk membuat wayang bagi anak usia dini di  PAUD Harapan Bunda Magelang pada Senin, 9 Maret 2020.

Kemudian diakhiri dengan melihat pentas sederhana. Pementasan sederhana dilakukan dengan cara interaktif sebagai bentuk pengenalan terhadap seni dan budaya Jawa, sekaligus Pak Gur Pur selaku dalang mengajak murid-murid larut dalam cerita bahwa manusia harus mencintai alam. Alam sebagai perwujudan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Anak-anak diajak untuk mencintai alam sejak dini. Tentunya dalam pementasan ini memakai karakter wayang yang selalu dibawa oleh Pak Gus Pur saat pentas. Anak-anak terlihat ceria menikmati suara gamelan yang mengiringi pementasan serta senang melihat liak-liuk daun-daun yang juga digunakan sebagai media dalam pementasan Wayang Godhonk. Dalam pementasan terselip pesan-pesan anjuran agar anak-anak cinta tanaman, mau memelihara tanaman dengan menyiram dan memupuknya secara rutin.

Gambar 5. Pementasan Sederhana Wayang Godhonk  di  PAUD Harapan Bunda Magelang pada Senin, 9 Maret 2020 dengan Tema Kekayaan Alam dan Cara Manusia Menjaganya Agar Tetap Lestari dan Harmonis